Cara kerja sistem reproduksi pria
Cara kerja sistem reproduksi pria
Saat kita dianggap belum cukup umur, pada umumnya secara singkat orangtua akan menjawab bahwa dengan cinta antara ayah dan ibu, kita dapat dengan sendirinya dihasilkan dan dilahirkan.
Jawaban tersebut tidak salah, tetapi banyak dari kita yang terus merasa penasaran dan terpaksa menyimpan rasa keingintahuan tersebut hingga akhirnya kita beranjak dewasa.
Saat mengalami masa pubertas, perubahan yang berhubungan dengan pertanyaan kita sebelumnya akan dialami oleh kita sendiri. Saat itulah, mau tidak mau, secara bertahap kita akan mengerti tentang proses reproduksi manusia dan peristiwa biologis yang terlibat didalamnya.
Tubuh manusia merupakan kumpulan dari sistem organ dengan fungsinya yang khas dan berbeda satu dengan yang lain. Setiap sistem memiliki karakteristik dan fungsi yang unik. Keberadaan seluruh sistem dalam tubuh, menjalankan fungsi kehidupan dari tiap-tiap individu.
Demikian pula dengan sistem reproduksi yang juga memiliki bagian dan fungsi yang unik. Sistem reproduksi terdapat pada tubuh untuk melakukan fungsi manusia dalam berkembang biak. Sistem reproduksi pria berbeda secara anatomis dan fungsinya dengan sistem reproduksi wanita.
Secara medis, sistem reproduksi pria terdiri atas:
  1. Buah pelir (Selanjutnya disebut dalam istilah medis: Testis).
  2. Saluran-saluran keluar dari sperma yang mengandung spermatozoa.
  3. Kelenjar-kelenjar tambahan yang menyusun komposisi sperma.
  4. Penis.
Seluruh sistem reproduksi tersebut berkembang sejak seorang anak laki-laki masih dalam kandungan. Dengan dipengaruhi berbagai enzim dan hormon tertentu (Yang ditentukan dengan keberadaan kromosom seks pria : XY), setiap bagian yang membentuk sistem reproduksi pria dewasa mulai terbentuk saat janin masih berusia 2 bulan.
Setelah seorang bayi laki-laki lahir, seiring dengan perkembangan tubuh menjadi semakin dewasa, penis pria pun ikut mengalami perkembangan. Perkembangan tersebut dapat berupa pembesaran secara fisik, maupun aktivasi dari kelenjar-kelenjar dan sel pembentuk spermatozoa.
Pada masa pubertas, sistem reproduksi pria mengalami pendewasaan penuh hingga diaktifkan seluruhnya. Hal tersebut mengandung arti bahwa seorang pria mulai mampu untuk menjalankan fungsinya dalam berkembang biak bersama-sama dengan seorang wanita.
Agar lebih mudah memahami kerja dari sistem reproduksi, kita bisa menganalogikan sistem tersebut layaknya sebuah pabrik dengan barang yang dihasilkan untuk selanjutnya disitribusikan hingga ke tempat yang ingin dituju.
Secara singkat, hal tersebut dapat digambarkan pada diagram berikut:
Produksi — > Distribusi — >Target
Seluruh proses tersebut memiliki satu tujuan utama yaitu: Membuahi sel telur wanita yang merupakan target dari spermatozoa. Agar mampu mencapai target utama tersebut, spermatozoa harus mampu bergerak cepat melalui saluran reproduksi wanita yang panjang dan berkelok. Agar dapat melakukan hal tersebut, spermatozoa harus diproduksi secara optimal. Hanya spermatozoa yang sehat dan memiliki bentuk normal yang mampu bergerak cepat untuk membuahi sel telur wanita.
Setelah diproduksi, spermatozoa juga harus dihantarkan ke ujung saluran keluar melalui saluran-saluran khusus yang menghubungkan tempat produksi dan saluran keluar spermatozoa. Pada akhirnya, spermatozoa harus melalui saluran reproduksi wanita hingga menemui target yang dituju, yaitu sel telur wanita atau ovum. Seluruh proses tersebut harus berjalan dengan baik sehingga seorang laki-laki mampu membuahi seorang wanita dan memiliki anak.
Sistem reproduksi pria saling berkaitan dengan sistem lain di tubuh, karena itu untuk menjaga agar sistem ini tetap berjalan normal maka kita harus senantiasa menjaga kesehatan.